Selasa, 15 Januari 2013

Pengembangan Media Pembelajaran Berbasis PPT tentang Pembuatan Kriya Anyam Matpel Seni Budaya Kelas X SMAN 2 Situbondo


Artikel untuk Jurnal
Prodi Seni Rupa, Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra, Universitas Negeri Malang

Abstrak

Kata kunci: Media pembelajaran, kriya anyam, seni budaya kelas X

Pendidikan Indonesia sering kali hanya menjadikan seni sebagai pendidikan alternatif dan tidak termasuk dalam penjurusan di tingkat SMU. Barulah di tingkat perkuliahan kita mendapatkan seni sebagai salah satu bidang studi, sesungguhnya matapelajaran seni terdapat suatu tujuan untuk menumbuhkembangkan kreatifitas peserta didik. Tujuan matapelajaran seni adalah menumbuhkembangkan sikap toleransi, demokratis, beradap serta mampu hidup rukun dalam masyarakat majemuk, mengembangkan kemampuan imajinatif, intelektual, ekspresi melalui seni, mengembangkan kepekaan rasa, keterampilan, dan mempergelarkan seni (Depdiknas, 2003:7).
Dalam praktiknya, pendidikan seni dilaksanakan dengan berbasiskan pada  budaya, terutama lingkungan budaya setempat dan budaya Nusantara. Menurut (Pranata, 2012:4) “konteks budaya dalam pendidikan seni meliputi berbagai wujud budaya antara lain ide, perilaku maupun instrumental”. Yang dimaksud wujud budaya pada tataran ide disini yaitu meliputi nilai-nilai, pengetahuan, kesadaran, norma, dan berbagai bentuk kearifan dan kebijakan lainnya. Wujud budaya pada tataran perilaku meliputi antara lain adat istiadat, kebiasaan, sikap dan tindakan, serta perilaku lainnya. Sedangkan pada wujud budaya instrumental antara lain bisa berupa berbagai bentuk benda, simbol, karya seni, serta karya cipta manusia lainnya.
Untuk mengoptimalkan kualitas dan produk hasil pembelajaran seni budaya tersebut, kita bisa memanfaatkan media pembelajaran. Media pembelajaran adalah suatu media untuk menyampaikan pesan kepada siswa baik itu dalam bentuk gambar ataupun kata-kata, sehingga siswa dapat mengerti tentang apa yang telah disampaikan oleh guru. Multimedia dengan konsep tradisional ini disusun berdasarkan metode instruksiovisme yaitu sebagai penyampaian informasi, komunikator pengetahuan, atau tutor bagi siswa (Pranata, 2010:3).
Di dalam Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar pada matapelajaran seni budaya yang telah ditetapkan oleh pendidikan terdapat materi seni rupa terapan. Dalam Standar Kompetensi pada kelas X terdapat apresiasi dan ekspresi diri melalui karya seni rupa. Pada Standar Kompetensi mengekspresikan diri melaui karya seni rupa, terdapat Kompetensi Dasar yaitu merancang karya seni rupa terapan dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat dan membuat karya seni rupa terapan dengan memanfaatkan teknik dan corak daerah setempat.
Di sekolah kelas X SMAN 2 Situbondo belum terdapat media pembelajaran yang baik atau maksimal media pembelajaran pada matapelajaran seni budaya, sehingga belum mendukung untuk proses belajar mengajar yang dapat meningkatkan kualitas maupun kompetensi siswa. Oleh karena itu, perlu adanya media pembelajaran yang cocok dan menarik agar mampu meningkatkan kualitas dan kompetensi siswa serta minat siswa terhadap matapelajaran seni budaya juga bertambah. Selain media pembelajaran yang kurang begitu maksimal di sekolah tersebut, juga kurang mengenal dan tidak dipelajarinya tentang seni rupa terapan khususnya kerajinan anyam.
Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan media pembelajaran khusunya kriya anyam dengan menggunakan software Microsoft PowerPoint 2010 berdasarkan kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006 pada tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas X untuk semester gasal, Standar Kompetensi Ekspresi pokok bahasan ditekankan pada seni rupa terapan daerah setempat. Materi yang diangkat yaitu pembuatan kriya anyam dengan teknik dan motif daerah setempat.
Dalam pembuatan media tersebut mengacu pada prinsip dasar pemanfaatan media yang dikemukakan menurut (Pranata 2012: 43) terdapat beberapa prinsip dasar tentang pemanfaatan media pembelajaran dipaparkan sebagai berikut: 1) Isi media harus sesuai dengan tujuan pembelajaran; 2) Media pembelajaran membantu siswa untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut; 3) Semua siswa harus dapat berinteraksi dengan media pembelajaran secara produktif; 4) Media pembelajaran berpotensi untuk mengoptimalkan hasil belajar siswa; 5) Media pembelajaran mestinya praktis dan mudah dioperasikan. Dengan demikian dapat diperoleh media yang sesuai dengan prinsip dasar pembuatan media tersebut.